- Back to Home »
- Resensi Novel Rumah Tanpa Jendela
Posted by : Unknown
Senin, 08 Desember 2014
1) Identitas Buku :
Judul : Rumah Tanpa
Jendela
Nama
Pengarang : Asma Nadia
Penerbit : PT. Kompas Media
Nusantara
Kota
Terbit : Jakarta
Tahun
Terbit : 2011
Warna
Sampul : Putih
Ukuran
Sampul : 21 cm
Harga
Novel : Rp 68.000
Jumlah
Cetakan : Empat
Jenis
Novel : Drama Populer
2) Sinopsis Rumah Tanpa Jendela
Rara
adalah gadis kecil berusia 8 tahun, rara sangat ingin punya jendela di rumahnya
yang kecil berdinding tripleks bekas di sebuah perkampungan kumuh tempat para
pemulung tinggal di Menteng Pulo, Jakarta.
Si
Mbok adalah nenek Rara yang sakit-sakitan dan ayahnya bernama Raga yang
berjualan ikan hias dan tukang sol sepatu, tidak cukup punya uang untuk membuat
atau membeli bahkan hanya selembar daun jendela dan kusennya saja. Rara juga
punya Bude, yaitu Bude Asih.
Bersama
teman-temannya sesama anak pemulung, sebelum pergi ngamen atau ngojek payung
jika hari sedang hujan, Rara menyempatkan untuk sekolah di tempat sederhana
yang khusus untuk anak jalanan. Bu Alya satu-satunya pengajar sukarelawan
disekolah itu yang membimbing dan membina anak-anak pemulung agar dapat mengenal
huruf dan dapat berhitung.
Di
tempat lain, di perumahan mewah kota Jakarta, Aldo seorang anak lelaki berusia
11 tahun yang sedikit mengalami keterbelakangan mental, merindukan seorang
teman di tengah keluarganya yang sibuk dengan urusannya masing-masing. Ia anak
bungsu dari pengusaha sukses, Pak Syahril dan Nyonya Ratna . Kehadiran Nek
Aisyah menjadi penghiburan untuk Aldo. Nek Aisyah sangat menyayanginya. Di
antara keluarga yang dimiliki aldo hanya nek aisyah yang sangat mengerti aldo.
Kaka aldo sempat menolak memiliki adik seperti aldo, hingga sang kakak malu
memiliki adik yang mengalami keterbelakangan mental.
Suatu
hari, Aldo berkenalan dengan Rara yang saat itu tengah mengojek payung dan
terserempet mobil Aldo. Sejak itu mereka menjadi akrab. Sejak pertemuan itu
aldo dan rara menjadi sahabat dimana rara sebagai teman terdekat yang dimiliki
aldo,karena jarang ada yang berteman dengan aldo karena aldo memiliki kelainan.
Kepada rara aldo menceritakan segala apa yang dirasakan aldo mulai dari penghinaan,pengkucilan
dan pengasingan yang dirasakan aldo, rara adalah teman yang baik yang dimiliki
aldo,rara selalu memberikan semangat pada aldo untuk selalu percaya diri dan
tidak bersedih. Rara membuat aldo yakin bahwa apa yang dimiliki aldo sangat
berarti dari pada yang dimilki oleh rara. Rara menceritakan pada aldo
keinginannya mempunyai rumah dengan jendela yang banyak dan di kelilingi
tanamanan. Namun, ayah rara yang berpenghasilan minim dan lingkungan rumah yang
tidak memungkinkan rara memiliki rumah indah sesuai impiannya. Rara mengajarkan
lewat impiannya bahwa kita harus berani bermimpi dan berharap walaupun di atas
kekurangan yang kita miliki. Hingga suatu hari Perkampungan kumuh tempat Rara
tinggal terjadi kebakaran, sementara di rumah Aldo semua panik karena karena
Aldo meninggalkan rumah, aldo pergi karena kecewa dengan sikap kakaknya yang
terang-terangan mengatakan merasa malu memiliki adik seperti dirinya.
Saat
itu aldo pergi dan memilih untuk pergi kerumah rara. Namun disana sedang
terjadi kebakaran dan aldo sulit menemukan rara. Saat itulah aldo pergi menuju
sekolahnya. Disaat itu aldo merasa bahwa dirinya tak berdaya dan sangat
menyusahkan orang lain. Pada raralah aldo menceritakan apa yang ia inginkan
begitu pula sebaliknya. Saat itu aldo memberikan kesempatan pada rara untuk
tinggal dirumah aldo yang ketika itu rara ditinggalkan oleh ayahnya
selama-lamanya. Sebelum terjadi kebakaran ayah rara mempersiapkan sebuah
jendela untuk rara, namun tuhan berkata lain rara harus kehilangan ayahnya
sekaligus rumahnya.
Novel
yang dikembangkan dari cerpen Asma yang berjudul Jendela Rara, ini mengangkat
tema yang sangat sederhana. Namun mampu membeberkan permasalahan di dua
kelompok masyarakat Jakarta. Si kaya dengan ketidakbersyukurannya, dan si
miskin dengan ketidakberdayaannya sebagai kaum papa. Akan kamu temukan cerita
cinta, sedikit komedi, persahabatan, dan perjuangan, di dalamnya.
Kelemahan
dalam novel ini adalah alur ceritanya yang sedikit melompat-lompat sehingga
pembaca merasa agak binggung untuk memahaminya. Seandainya cerita dikemas dalam
bentuk tulisan yang mengalir tanpa harus tiba-tiba membahas satu orang atau
satu kejadian berbeda di tengah cerita pasti akan lebih bagus.
Berkat
alur ceritanya yang inspiratif, cerpen yang terbit pada Januari 2011 ini telah
diadaptasi menjadi film layar lebar berjudul sama yang dibintangi Dwi Tasya dan
Emir Mahira. Cerpen lain karya Asma Nadia, Emak ingin naik Haji, juga pernah
diangkat ke layar lebar dan meraih banyak penghargaan. Novel dan Filmnya sangat
menyentuh hati.
Tokoh-tokoh dalam cerita:
a.
Rara gadis kecil berusia 8 tahun, sangat ingin punya jendela di rumahnya yang
kecil berdinding tripleks bekas di sebuah perkampungan kumuh tempat para
pemulung tinggal di Menteng Pulo, Jakarta.
b. Si Mbok, neneknya Rara - yang sakit-sakitan
dan ayahnya.
c.
Raga yang berjualan ikan hias dan tukang sol sepatu, tidak cukup punya uang
untuk membuat atau membeli bahkan
hanya selembar daun jendela dan kusennya saja.
d. Rara juga punya Bude, yaitu Bude Asih.
e.
Bersama teman-temannya sesama anak pemulung, sebelum ngamen atau ngojek payung
jika hari sedang hujan, Rara sekolah di tempat sederhana khusus untuk anak
jalanan.
f.
Bu Alya satu-satunya pengajar sukarelawan disitu yang membimbing dan membina
anak-anak pemulung tersebut.
Di
tempat lain, di perumahan mewah kota Jakarta.
g.
Aldo anak lelaki berusia 11 tahun yang sedikit terbelakang, merindukan seorang
teman di tengah keluarganya yang sibuk dengan urusannya masing-masing. Ia anak
bungsu dari pengusaha sukses.
h.
Pak Syahri dan Nyonya Ratna adalah orangtua dari Aldo.
i.
Kehadiran Nek Aisyah, Ibu Pak Syahri menjadi penghiburan untuk Aldo. Nek Aisyah
sangat menyayanginya.